Mengandalkan Tuhan atau Manusia

Kita Mengandalkan Siapa?

Belajar dari tindakan Raja Asa pada awal memerintah Yehuda sungguh sangat menarik. Pada saat awal hatinya sungguh berpaut pada Tuhan, sehingga saat mendapat serangan dari Ethiopia dengan kekuatan lebih dari satu juta pasukan, dia mengadu pada Tuhan. Tuhan yang Maha Baik meluputkannya beserta seluruh rakyat Yehuda.

Hidupnya diserahkan pada Tuhan. Tuhan pada awalnya menjadi segalanya bagi dia. Tetapi kemudian saat mendapat ancaman dari musuh yang tidak terlalu besar, pada tahun ke tiga puluh enam pemerintahannya, lebih dari 20 tahun sejak serangan dari Zerah orang Ethiopia itu,  Raja Asa justru mengandalkan bantuan dari sumber lain yang bukan Tuhan.

Jarak antara mengandalkan Tuhan dan kemudian berubah menjadi mengandalkan kekuatan manusia berbeda antara satu kejadian dengan kejadian yang lain. Dalam hal Raja Asa, nampaknya jangka waktunya cukup lama, yaitu lebih dari 20 tahun. Pengalaman bersama Tuhan sudah dilupakan tetapi bantuan dari manusia yang baru saja dialami, itu yang diingat. Bagaimana persisnya perubahan itu, tidak terlalu banyak dikisahkan. Tapi satu hal yang pasti, jarak antara mengandalkan Tuhan 100% dengan mengandalkan manusia pasti disela dengan pengalaman-pengalaman yang khusus. Artinya, ada begitu banyak kejadian yang menutupi memori kebersamaannya dengan Tuhan. Ada begitu banyak yang menutupi pandangan ke arah Tuhan, sehingga pandangan dan perhatiannya teralihkan ke hal-hal yang lain.

Sangat penting untuk selalu berpaut pada Tuhan, dalam segala situasi. Pernahkah Anda merasa mengalami kemunduran iman? Rasanya seperti itulah yang dialami oleh Raja Asa. Dia mengalami kemunduran keintiman dengan Tuhan. Tanpa sadar, dia merasa pertolongan manusia lebih penting daripada pertolongan Tuhan. Manusia lebih dihargai daripada Tuhan.

Sangat sulit untuk tetap setia, bila hubungan tidak dijaga dengan baik. Sangat sulit untuk selalu mengandalkan Tuhan, bila kita berubah menjadi lebih kuat, lebih banyak koneksi, lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih sehat, lebih sukses dan lain sebagainya. Bila kita selalu menyadari, bahwa kekuatan, kesehatan, kekayaan, pengaruh, kekuasaan tidak punya arti apa-apa di hadapan Tuhan, maka kita dapat selalu rendah hati, berpaut pada-Nya serta mengandalkan Tuhan.

Mengandalkan Kekuatan Manusia

Percuma kita mengaku menjadi murid-Nya atau anak-Nya bila kita mengandalkan kekuatan sendiri. Tanpa Tuhan, hidup kita sangat rapuh. Dunia lebih kuat daripada kita. Penguasa dunia lebih berpengalaman dibandingkan kita. Hanya Tuhanlah kota benteng dan tempat perteduhan yang sejati.


Rumah Kita

Rumah Impian di Surga

Saat harus berada di Bandung, saya menginap di sebuah guest house yang cukup besar. Saya membayangkan, sebelumnya rumah yang disulap jadi guest house ini pastilah sebuah rumah impian. Begitu luas, hijau, sejuk, menyenangkan dan dihuni oleh sebuah keluarga yang berbahagia.

Pada saat keluarga itu lengkap, terdiri dari orang tua, anak dan mungkin juga oma dan opa, suasananya kemungkinan besar penuh dengan keceriaan, canda dan tawa. Kemudian hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, anak-anak bertambah besar, oma dan opa mulai melemah dan sakit. Sesaat kemudian anak-anak mulai dewasa dan meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu, di luar kota dan di luar negeri. Rumah semakin sepi karena oma dan opa sudah tiada, hanya orang tua bersama beberapa orang pembantu dan pengemudi. Suasana telah sangat berubah, sehingga setelah orang tua menjadi renta, anak-anak yang sibuk mulai berpikir untuk mencari pasif income dengan merubah rumah kenangan mereka menjadi sebuah guest house. Terlupakan sudah rumah penuh nostalgia, tempat kenangan indah saat kecil dan remaja mereka, karena fokus mereka juga telah berada pada pekerjaan dan kesibukan keluarga masing-masing. Apa yang pernah indah di masa lalu, hanya tinggal kenangan saja. Betapa fananya dunia kita.

Ingatkah kita, betapa keadaan kita saat ini sangat berbeda dengan masa kanak-kanak? Pernah suatu masa, dunia terasa begitu indah tanpa masalah di mata kita yang masih begitu belia. Tetapi pada akhirnya kita menyadari, bahwa dunia ini penuh dengan masalah, baik dari segi finansial, kesehatan, hubungan sosial, hubungan dengan Tuhan, keluarga, pendidikan dan masih banyak lagi. Tidak ada yang tinggal tetap di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini. Sehebat apapun pencapaian kita saat ini, tidak ada yang bisa meluputkan kita dari problema kehidupan. Pada saat kita beranjak tua, maka kita mulai berpikir, bahwa dunia ini memang bukan rumah kita. Tinggal bersama Bapa di rumah kita di Surga adalah dambaan setiap kita yang memiliki hati yang terpaut kepada-Nya.

Rumah Impian Terindah

Di seberang sana, air mata telah lenyap. Di seberang sana, damai kekal. Tak ada susah di seberang sana, sebab Yesus sertaku selama-lamanya. Betapa indah bersama Tuhan di rumah Bapa, di Surga mulia. Sungguh indah bila kita bisa dengan sungguh-sungguh mempersiapkan hidup untuk tinggal bersama Allah yang mengasihi kita dari kekal sampai kekal. Selama-lamanya.


September 2016
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Mind Map Sebelumnya
Langganan dg Email