Archive for July, 2009
Truth 1 Agustus 2009 “Egoiskah Tuhan?”
Mind Map Egoiskah Tuhan
(Diambil dari Renungan Truth Rehobot Ministry – Dr. Erastus Sabdono) Judul ini mungkin dicurigai, bahkan dianggap salah, kalau tidak dijelaskan secara lengkap dan benar. Pernyataan “Tuhan membela pekerjaan-Nya sendiri” mengesankan Ia egois dan tidak memiliki kasih kepada manusia. Sebenarnya tidaklah demikian. Harus diingat bahwa Tuhan tidak memiliki “sesama”, sebab tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Dia. Ia Maha Esa. Manusia bukanlah sesama-Nya, tetapi hasil ciptaan-Nya. Firman Tuhan tegas berkata bahwa “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36). Ini menegaskan bahwa tidak ada yang berhak memperoleh segala kehormatan dan kemuliaan selain Tuhan. Segala sesuatu dari Tuhan, dikerjakan oleh Tuhan dan dipersembahkan bagi Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan membela diri-Nya sendiri.
Dengan demikian, bisakah Tuhan dipandang sebagai egois? Untuk itu harus dijawab dulu, apakah egois itu? Egois berarti mengusahakan segala sesuatu hanya untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri, dan biasanya mengorbankan orang lain atau sesamanya. Kalau Tuhan melakukan segala sesuatu hanya untuk diri-Nya sendiri, tidaklah dapat dikatakan egois, sebab memang Dialah Sang Pemilik Tunggal kehidupan ini, dengan segala yang ada didalamnya. Hanya Dia yang berhak atas segala sesuatu dan tidak ada pihak manapun yang dapat mengklaim sebagai pemilik atau yang berhak menguasai dan menikmatinya. Jadi Ia tidak egois. Sebagai Pribadi, tentu Ia juga memiliki hasrat untuk berkarya dan menikmati hasil karya-Nya. Jangan berpikir bahwa Tuhan tidak memiliki cita rasa untuk menikmati sesuatu. Ia memiliki cita rasa terhadap sesuatu, bahkan menikmati diri-Nya Sendiri yang Mahasempurna. Jika Ia tidak memiliki cita rasa dan menikmati ciptaan-Nya, maka Tuhan tidak dapat memandang bahwa hasil ciptaan-Nya sungguh amat baik (Kej. 1:31).
Sebagai Sang Pencipta dan Sang Pemilik, Tuhan berhak memiliki segala sesuatu dan mengusai semuanya bagi diri-Nya sendiri. Kalau ada yang merasa terganggu dengan realita ini, harus dipertanyakan, siapakah dia ini? Pasti dia oknum yang sombong dan tidak tahu diri. Semua makhluk tidak memiliki hak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi hidup bagi Penciptanya. Kesalahan yang menjatuhkan penghulu malaikat yang kemudian menjadi Lucifer adalah hasrat untuk hidup bagi dirinya sendiri. Ia merasa berhak memiliki kehormatan. Ia lupa bahwa dirinya diciptakan oleh Tuhan untuk melayani Tuhan tanpa syarat: maksudnya, tidak ada tujuan lain dalam kehidupan makhluk ciptaan selain memuliakan Tuhan.
Truth 31 Juli 2009 “Bukan Sesuatu yang Mustahil”
Mind Map Bukan Sesuatu yang Mustahil
(Diambil dari Renungan Truth – Rehobot Ministry) Suatu kali saya bercakap-cakap dengan anak saya dalam perjalanan mengantarnya ke sekolah pada pagi hari. Saya katakan kepadanya bahwa seseorang dapat belajar semalam sebelum menghadapi ujian mata pelajaran sejarah. Mungkin ia bisa menjawab, walau tentu hasilnya tidak baik. Tetapi kalau seseorang mau menghadapi ujian matematika, ia tidak cukup belajar semalam saja. Mustahil ia dapat menjawab sebagian besar soal-soal yang diberikan. Menguasai matematika harus belajar tekun setiap hari, menggumuli soal-soal yang sederhana sampai yang rumit. Sampai kemudian, jika telah tekun belajar dan menguasai mata pelajaran ini, ia akan berusaha mencari soal yang sulit. Ia tidak akan puas bila hanya berhadapan dengan soal-soal yang tidak rumit. Ia akan menantang soal-soal sulit yang belum pernah dikerjakan. Dalam tingkat kecerdasan tertentu atau penguasaan terhadap matematika, seseorang dapat memahami apa maksud si pembuat soal, jebakan-jebakan yang diciptakan dan jawaban yang diharapkan si pembuat soal.
Ini pararel dengan hal kepekaan kita terhadap kehendak Tuhan. Kita tidak dapat memahami kehendak Tuhan hanya dalam satu hari, satu bulan bahkan satu tahun. Memahami apa yang dikehendaki Tuhan membutuhkan perjuangan yang berat setiap hari. Dalam hal ini, tidak ada jalan mudah untuk dapat menemukan kehendak Tuhan. Dengan pengertian ini, hendaknya kita mulai berani berinvestasi, baik waktu maupun tenaga untuk mengerti kehendak Tuhan selengkap-lengkapnya. Memahami kehendak Tuhan memang tidak sederhana, tetapi juga tidak rumit sedemikian rupa sampai orang percaya tidak dapat memahaminya sama sekali. Bukan sesuatu yang mustahil.
Tuhan membuka peluang bagi anak-anak-Nya untuk dapat menangkap apa yang dikehendaki untuk dipahami agar dilakukan dalam kehidupan secara konkret. Tetapi untuk memperolehnya harus kerja keras, melalui perjalanan waktu yang tidak singkat. Seperti halnya seekor unta tidak mungkin bisa masuk lubang jarum (Mat. 19:24). Kalau yang dimaksud lubang jarum adalah pintu kecil yang disisakan terbuka pada malam hari ketika pintu gerbang utama kota ditutup, unta harus jongkok dulu lalu didorong oleh tuannya masuk kedalam kota. Tidak mustahil bukan? Tetapi harus kerja keras. Disini, kerja keras merupakan syarat utama seseorang bisa mendengar suara Tuhan dengan benar. Kerja keras ini dalam bentuk membaca Alkitab secara teratur, membaca buku-buku rohani yang bermutu, mendengar khotbah yang benar, menyangkal diri setiap hari untuk melakukan Firman-Nya. Mereka yang menabur dengan cucuran air mata akan menuai dengan sorak-sorai (Mzm. 126:5)